Kecelakaan Motor
Kemarin sore aku melihat kecelakaan motor di perempatan kenteng. Aku sangat kaget karena aku melihat denga mata kepalaku sendiri. Aku benar-benar melihat kejadian itu saat kedua motor saling bertabrakan. Kronologisnya seperti ini.
Kecelakaan Motor
Kemarin sore aku melihat kecelakaan motor di perempatan kenteng. Aku sangat kaget karena aku melihat denga mata kepalaku sendiri. Aku benar-benar melihat kejadian itu saat kedua motor saling bertabrakan. Kronologisnya seperti ini.
Suara kicau burung di pagi hari membangunkan Pak Sukro dari tidurnya. Saat mata terbuka sudah ada secangkir kopi dan sepucuk surat di atas meja di samping tempat tidurnya. Dalam hati Pak Sukro bertanya-tanya , surat dari siapa itu?
“Nduk….Nduk“ panggil Pak Sukro kepada anak gadisnya.
Tetapi tak ada jawaban dari Genduk. Lalu Pak Sukro beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas keluar kamar untuk mencari anaknya. Sudah dicari seisi rumah tapi Genduk tidak ada. Pak Sukro teringat akan suratnya tadi , kemudian dia kembali ke kamar untuk mengambil surat tadi. Diambilnya surat tersebut dan dengan segera dibaca olehnya.
Selamat pagi pak,
Pak ini surat dari Genduk. Maaf Genduk tidak berani ngomong sama bapak. Genduk takut bapak marah. Genduk harus pergi pak. Genduk tidak bisa hidup seperti ini terus. Sebenernya genduk bingung. Genduk tidak tahu apa yang harus genduk lakukan. Ini genduk lakukan karena Genduk menyayangi bapak juga mas Tarno. Dari pada bapak tidak menyetujui Genduk menikah dengan Mas Tarno lebih baik gendu pergi. Genduk minta maaf kalau Gendek selama ini menyusahkan bapak. Genduk saying sama bapak.
Setelah membaca surat dari Genduk sontak Pak Sukro menangis dan mengamuk sejadi- jadinya. Sehingga para tetangga datang menghampiri Pak Sukro.
“Ada apa ini Pak , kenapa anda mengamuk?“ Tanya salah seorang warga
“Walah edan anakku minggat dari rumah!“ jawab Pak Sukro sambil berteriak
Warga berusaha menenangkan Pak sukro. Setelah beberapa sat emosi Pak Sukro sudah mereda dan dapat terkendali.
“Ti, kenapa anak kita jadi begini ?“ kata Pak Sukro sambil memeluk foto istrinya.
Pak Sukro hanya tinggal bersama Genduk karena Surti istrinya sudah meninggal satu tahun yang lalu. Seharian Pak Sukro mencari anak semata wayangnya. Seluruh kampong sudah dicari/ namun Genduk tidak juga di temukan. Pada malam harinya Pak Sukro tidak bisa tidur. Sebenarnya Pak Sukro ingin mencari Genduk ke rumah Tarno. Tetapi dia tidak tahu di mana rumah Tarno.Tiba – tiba dia teringat pada Sri tman Genduk. Karena dulu Genduk pernah cirita kalau dia dikenalkan Tarno oleh Sri. Bergagas Pak Sukro pergi ke rumah Sri. Sesampainya di rumah Sri , Pak Sukro mengutarakan maksud kedatangannya malam – malam. Dia menceritakan tentang kepergian Genduk. Sri kaget karena dia juga baru tahu kalau Genduk oergi dari rumah. Akhirnya Sri memberikan alamat rumah Tarno. Betapa terkejutnya Pak Sukro karena ternyata Rumah Tarno ada di Tegal.
Setelah itu Pak Sukro pulang ke rumah. Tanpa berfikir panjang Pak Sukro pergi ke Tegal dengan mencarter mobil milik tetangganya. Dalam perjalanan Pak Sukro hanya diam dan terlihat sangat panic. Keesokan paginya tibalah Pak Sukro di rumah Tarno. Setelah turun dari mobil Pak Sukro langsung mengedor – gedor pintu rumah Tarno.
“Hei Tarno , kembalikan anaku!” teriak Pak Sukro.
Sontak seluruh isi rumah Tarno berhamburan keluar. Padahal saat itu masih pagi buta.
“Ada apa ini Pak!” Tanya Tarno.
“Jangan pura-pura tidak tahu, kamu sembunyikan di mana anak gadisku?” jawab Pak Sukro
“Apa maksud Bapak, saya benar-benar tidak tahu!” kata Tarno.
“Alah jangan pura-pura bodoh, Genduk minggat dari rumah pasti kamu yang mengajaknya dan menyambunyikannya di sini!”bentak Pak Sukro.
“Apa, Ganduk minggat!” jawab Tarno dengan terkejut
“Saya malah baru tahu, demi Tuhan Pak saya tidak menyembunyikan Genduk.” kata Tarno.
“Tapi Genduk minggat gara-gara kamu.” kata Pak Sukro.
“Kalau Bapak tidak percaya silahkan geledah rumah saya.” jawab Tarno.
Pak Sukro langsung masuk dan mengobrak-abrik rumah Tarno. Namun Genduk tidak ada juga. Pak Sukro menangis sedih.
“Di mana anakku?” ratap Pak Sukro.
“Mari kita cari bersama Pak.” kata Tarno.
“Baiklah, maafkan bapak ya Nak, karena telah berburuk sangka padamu.” Kata Pak Sukro
“Tidak apa-apa Pak.” jawab
Tarno.
“Silahkan Bapak beristirahat dulu, setelah itu nanti kita pulang ke tempat bapak dan kita mencari Genduk bersama.” kata Tarno
Setelah matahari terbit dan Pak Sukro juga sudah cukup beristirahat, maka Pak Sukro kembali ke rumah bersama Tarno. Dalam perjalanan pulang pun Pak Sukro hanya diam. Dalam pikirannya hanya ada Genduk anak gadisnya yang paling disayangi. Sesampainya di depanrumah betapa kagetnya Pak Sukro dan Tarno karena ada bendera kuning di depan rumahnya. Pak Sukro langsung turun dan berlari menuju rumah.
“Ada apa ini?” tanay Pak Sukro kepada salah satu orang tetangganya
Namun orang itu hanya diam dan menggelengkan kepala. Pak Sukro masuk ke dalam rumah. Setibanya di dalam betapa terkejutnya Pak Sukro melihat anaknya sudah tidak bernyawa. Betapa hancurnya hati Pak Sukro mengatahui Genduk sudah terbujur kaku terbukgkus kain kafan putih. Buru-buru dipeluknya tubuh Genduk.
“Genduk………………………..kenapa kamu tinggalkan Bapak sendiri?” teriak Pak Sukro sambil menangis dan memeluk Genduk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar